Ayo jalan-jalan ke Jepang! Sesekali gue bahas seputar Negeri Sakura ini. Siapa tau gue atau kalian punya kesempatan buat mampir ke sana. Kalo udah omong-omong soal Jepang, ga akan bisa lepas dari industri seksnya. Jepang bisa ngewujudin fantasi seks bahkan sampe yang paling absurd! Di sana kita tau ada keberadaan geisha, komik sampe video dengan konten yang penuh seksualitas. Semua itu beredar bebas. Kaya di sini jualan warteg pinggir jalan.



Industri seks di Jepang sendiri masuk ranking 2 dalam deretan industri paling besar di dunia. Barti anaknya pinter, nih. Sering dapat ranking. Pengaruh seks dalam perindustrian dunia lumayan gede. Ga heran kalo Jepang akhirnya bikin inovasi untuk industri seks lokal dan mulai menyajikan hal-hal seksual bahkan yang ga masuk akal sekalipun.

Liat aja sendiri 5 budaya seks di Jepang ini, bisa-bisa kalian geleng-geleng kepala sendiri.

Robot seks dan transmisi ciuman

robot seks di jepang

via bundapokerinfo.com

Kalau boneka seks tentu sebagian dari kalian udah ga asing. Sering dikenal sebagai sex toys, cuman bedanya Jepang ngasih kenaikan kelas sama boneka ini. Tujuannya untuk kepuasan yang hqq (baca: hakiki) Jepang nyiptain robot seks yang mirip banget sama manusia. Bahkan, ga cuma sekadar memuaskan nafsu aja, robot ini juga “diberi” perasaan dan emosi, layaknya manusia!

Selain itu, buat yang LDR-an alias lo dimana gue dimana relationship (punchline by Ryan Adhriandi), bakal diciptain juga transmisi ciuman atau sesi bercinta virtual buat ngobatin kangen bagi pasangan jarak jauh. Transmisi ciuman ini juga bisa dipake untuk fans-fans yang bermimpi bercinta dengan idolanya. Kapan lagi bisa ngerasain ciuman sama Elly Sugigi, guys!?

Fetish Club

fetish club

 

via kaskus.co.id

Tokyo itu budayanya tertutup dan homogen, sekarang mereka menjelma jadi kota yang punya  fetish club paling liar di dunia. Mulai dari bukkake, kikkou atau perbudakan, sampai nyotaimori. Apaan tuh? Nyotaimori itu aktivitas makan sushi yang disajiin di atas tubuh wanita telanjang. Bayangkan liarnya fantasi-fantasi yang menjadi nyata itu.



Joan Sinclair adalah ketua club ini dan ia beranggapan kalo hal-hal tersebut bukan budaya umum. Jadinya dia malah terinspirasi, ngebuat ruangan untuk bercinta yang di-setting jadi bermacam suasana, seperti kelas, kereta dan bahkan rumah sakit.

Enjo Kosai

enjo kosai

via harianriau.co

Enjokosai itu sebutan buat kencan berbayar di Jepang. Biasanya ngelakuin murid sekolah, buat dapetin bayaran mereka dengan senang hati kencan sama Om-Om. Caranya ‘om-om’ yang pengen punya teman kencan, beli nomor telepon seorang gadis yang nomornya dijual di klub telepon. Sebenernya sih ga melulu hal-hal seksual, tapi sebenarnya di Jepang hal ini mendapat kecaman. Tapi anehnya justru si gadislah yang dapat kecaman karena dengan rela menjual keluguannya untuk Om-Om.

Orgasm War

orgasm war

 

via news.idntimes.com

Di Jepang bahkan ada TV show dengan tema seksual juga diterima sama masyarakat Jepang. Ada satu acara TV yang paling aneh, Orgasm War. Di program ini, ada pria gay harus bisa ngebikin porn star ejakulasi di tiap episode. Porn star itu sendiri harus menahan biar ga terjadi ejakulasi. Waktu akan berjalan sampai ketika si pria gay melakukan blowjob kepadanya. Bakal sulit banget nerima ini sebagai sebuah acara TV yang normal, dan ga masuk akal. Tapi itulah kenyataannya di Jepang.

Masanobu Sato

Masanobu Sato itu salah seorang pekerja di industri produsen sex toys di Jepang. Dia punya hobi yang aneh, yakni masturbasi. Tapi, keanehan hobinya ini justru ngebawa dia menangin kontes masturbasi dunia bernama Marturbate-a-thon yang diadain di San Fransisco. Sato emang sehari-harinya latian masturbasi, supaya terbiasa dan ga gampang ejakulasi dengan cepat. Dia latihan di samping pacarnya. Namun yang unik, walopun tinggal sama pacar, justru Sato jarang bercinta sama pacarnya. Katanya, sih, karna pacar Sato ga tertarik sama aktivitas berhubungan badan.



Absurd banget budaya seks di Jepang ini. Bingung gue. Mungkin sebagai orang Indonesia, kita ngeliatnya aneh banget. Tapi, kita perlu hormati apapun budaya di Jepang. Ga harus ikut-ikutan, ya. In the end, terlepas dari hal-hal dan budaya seksualnya, banyak pesona lainnya yang ngebuat Jepang wajib dikunjungi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: